|

Menuju Pariwisata Berkelanjutan, Calon Doktor UHN Sugriwa Bagus Suryadi Bedah Tata Kelola Desa Wisata Jatiluwih Berbasis Tri Hita Karana

Denpasar – Sektor pariwisata Bali yang bertumpu pada keindahan alam dan keluhuran kebudayaan menuntut pola manajemen yang tidak sekadar berorientasi pada keuntungan ekonomi jangka pendek. Di tengah derasnya arus modernisasi dan tantangan global, konsep pembangunan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) menjadi harga mati demi menjaga kelestarian ekosistem lingkungan serta kesucian adat. Filosofi Tri Hita Karana, sebagai cetak biru kearifan lokal Bali, memegang peran sentral sebagai instrumen dalam menyeimbangkan kepentingan pariwisata. Merespons urgensi ekologi dan teologi tersebut, Program Pascasarjana Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar terus berkomitmen memfasilitasi riset-riset strategis tingkat tinggi guna merumuskan tata kelola destinasi yang ideal.

Adalah I Putu Bagus Suryadi, mahasiswa Program Doktor (S3) Ilmu Agama, yang sukses melewati tahapan krusial dalam Ujian Tertutup Disertasi pada Kamis (11/06/2026). Bertempat di ruang ujian Program S3 Doktor Ilmu Agama, ia mempertahankan draf riset mendalamnya yang bertajuk “Pengelolaan Desa Wisata Berkelanjutan Berbasis Tri Hita Karana di Desa Jatiluwih Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan”. Penelitian sosioreligius dan pariwisata ini dinilai sangat relevan dan strategis karena memotret langsung lokus Desa Jatiluwih yang telah mendunia dengan sistem subak dan lanskap persawahan teraseringnya sebagai warisan budaya dunia.

Dalam pemaparan taktis selama 15 menit, Bagus Suryadi menjelaskan bahwa bertahannya daya tarik eksotis Desa Wisata Jatiluwih berada pada konsistensi masyarakatnya dalam mengimplementasikan nilai Tri Hita Karana. Melalui kacamata ilmu agama dan manajemen pariwisata, ia membedah bagaimana keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan (parhyangan), sesama manusia (pawongan), dan lingkungan alam (palemahan) menjadi determinan utama dalam pengelolaan desa wisata. Riset ini mengungkap bahwa sinergi antara kesucian ritual subak dan tata kelola ekonomi kreatif mampu menciptakan sistem ekowisata yang menyejahterakan krama setempat tanpa merusak tatanan adat.

Ketajaman visi serta argumentasi ilmiah Suryadi dalam meretas konsep pariwisata berbasis spiritualitas ini diuji secara komprehensif oleh jajaran dewan penguji pakar yang sangat prestisius di bidangnya. Hadir sebagai barisan dewan penguji utama, Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si, bersama Prof. Dr. Drs. I Nengah Lestawi, M.Si, Prof. Dr. Dra. Relin D.E., M.Ag, serta Prof. Dr. I Nyoman Alit Putrawan, S.Ag., M.Fil.H. Sesi diskusi akademik di ruang ujian tertutup berlangsung sangat dinamis, di mana para guru besar secara kritis menelisik model implementasi teo-ekologis yang ditawarkan peneliti agar memiliki indikator capaian yang terukur untuk keberlanjutan desa wisata.

Kualitas pelaporan disertasi monumental ini semakin dipertegas dan dipertajam melalui masukan strategis serta tanya jawab intensif bersama jajaran tim penguji ahli lainnya, yaitu Prof. Dr. Drs. Ketut Sumadi, M.Par, Prof. Dr. I Gede Sutarya, SST.Par., M.Ag, dan Dr. I Made Arsa Wiguna, Sst.Par., M.Pd.H. Ketangkasan ilmiah serta ketenangan mental yang ditunjukkan Bagus Suryadi dalam mempertahankan setiap argumentasi berbasis data lapangan sukses menunjukkan kematangan intelektualnya sebagai seorang akademisi. Jajaran penguji pariwisata dan budaya ini menekankan bahwa hasil riset ini sangat layak menjadi rujukan baku bagi pengambil kebijakan dalam mendesain standarisasi desa wisata di seluruh Bali.

Keberhasilan dalam ujian tertutup ini menjadi batu pijakan akhir yang mantap bagi I Putu Bagus Suryadi sebelum melangkah ke tahapan Promosi Doktor (Ujian Terbuka) demi menyandang gelar akademik tertinggi. Program Pascasarjana UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar senantiasa mendoakan dan berharap agar seluruh proses penyempurnaan naskah disertasi ini ke depan diberikan kelancaran serta senantiasa dalam tuntunan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Semoga seluruh buah pemikiran ilmiah yang dikonstruksikan dari bumi Jatiluwih ini mampu memberikan sumbangsih yang agung bagi perkembangan ilmu teologi pariwisata, serta menjadi laku panduan praktis dalam menjaga keajegan alam, manusia, dan budaya Hindu Nusantara. -(tupasca)

Berita Terkait