|

Digitalisasi Berkarakter Tradisi: I Gede Pawana Raih Doktor ke-184 UHN Sugriwa, Bedah Sinergi IT Berbasis Tri Hita Karana di Duda Timur

Denpasar – Akselerasi teknologi informasi di era globalisasi sering kali dipandang sebagai pisau bermata dua yang berpotensi menggerus nilai-nilai kebudayaan lokal jika tidak diadaptasi dengan bijak. Di Bali, tantangan terbesar terletak pada bagaimana dualitas sistem pemerintahan, yakni desa adat dan desa dinas, dapat berjalan beriringan dalam memanfaatkan teknologi tanpa menciderai tatanan dresta leluhur. Integrasi sistem digital yang harmonis justru dapat memperkuat tata kelola kepemimpinan sekaligus pelayanan publik yang berakar pada kearifan lokal. Merespons urgensi transformasi siber-kultural tersebut, Program Pascasarjana Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar sukses menggelar sidang akademik tertinggi guna membedah cetak biru sinergisitas berbasis digital.

Adalah I Gede Pawana, mahasiswa Program Doktor (S3) Ilmu Agama, yang sukses mempertahankan hasil penelitian puncaknya dalam Ujian Terbuka Disertasi pada Senin (15/06/2026). Bertempat di Aula Pascasarjana, Jl. Kenyeri No. 57 Denpasar, ia memaparkan secara lugas draf riset komprehensifnya yang bertajuk “Sinergi Desa Adat dengan Desa Dinas dalam Penerapan Teknologi Informasi berbasis Tri Hita Karana di Desa Adat Duda Timur Selat Karangasem”. Sidang akademik terbuka ini menjadi pusat perhatian luas karena berhasil memotret keberhasilan percontohan digitalisasi desa di wilayah Bali Timur yang tetap kukuh memegang teguh identitas spiritualitasnya.

Dalam pemaparan taktis selama 15 menit, Gede Pawana menjelaskan bahwa penerapan teknologi informasi di Desa Adat Duda Timur tidak melahirkan benturan sosiologis, melainkan mampu mengonstruksi sinergi yang produktif antara kelembagaan adat dan dinas. Melalui kacamata teo-teknologi Hindu, ia membedah bagaimana aplikasi dan sistem digital yang dirancang diimplementasikan berdasarkan nafas Tri Hita Karana. Penggunaan IT diarahkan untuk mempermudah manajemen parhyangan (sistem informasi pura/yadnya), pawongan (pelayanan kependudukan inklusif), dan palemahan (pemetaan wilayah serta kebencanaan). Sinergi ini terbukti efektif menciptakan efisiensi birokrasi sekaligus mempererat ketahanan sosial masyarakat setempat.

Ketajaman visi serta argumentasi ilmiah Pawana dalam meretas konsep tata kelola digital berbasis komunal ini diuji secara komprehensif oleh jajaran dewan penguji pakar yang sangat prestisius. Hadir sebagai barisan penguji utama, Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si, Prof. Dr. Drs. I Nengah Lestawi, M.Si, Prof. Dr. Dra. Relin D.E., M.Ag, serta Prof. Dr. Drs. Ida Bagus Gede Candrawan, M.Ag. Sesi diskusi akademik di Aula Pascasarjana berlangsung sangat dinamis, di mana para guru besar secara kritis menguliti ketepatan metodologi, orisinalitas riset, hingga tingkat keamanan data adat dalam integrasi teknologi yang ditawarkan oleh promovendus.

Kualitas pertanggungjawaban disertasi monumental ini semakin dipertegas dan disempurnakan melalui masukan strategis serta tanya jawab intensif bersama jajaran penguji ahli lainnya, yaitu Prof. Dr. Drs. I Nyoman Linggih, M.Si, Prof. Dr. I Nyoman Alit Putrawan, S.Ag., M.Fil.H, Dr. Drs. I Nyoman Ananda, M.Ag, Dr. I Made Dian Saputra, SS., M.Si, dan Dr. Drs. Made Redana, M.Si. Ketangkasan ilmiah dan ketenangan mental yang luar biasa diperlihatkan Gede Pawana dalam mematahkan setiap sanggahan akademik dari para penguji. Atas performa akademiknya yang cemerlang tersebut, dewan penguji sepakat menetapkan beliau berhak menyandang gelar Doktor Ilmu Agama ke-184 bagi Pascasarjana UHN Sugriwa dengan predikat kelulusan Sangat Memuaskan.

Keberhasilan dalam ujian terbuka ini menjadi capaian puncak yang membanggakan, sekaligus mengukuhkan posisi Dr. I Gede Pawana di barisan akademisi dan praktisi keagamaan Hindu Nusantara yang responsif terhadap modernisasi siber. Program Pascasarjana UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar menghaturkan ucapan selamat yang paling mendalam serta mendoakan agar gelar akademik tertinggi ini senantiasa membawa berkah dan tuntunan luhur dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Semoga seluruh buah pemikiran teo-teknologis yang tertuang dalam disertasi ini mampu memberikan sumbangsih yang nyata, serta menjadi model percontohan nasional bagi desa-desa adat lainnya di Bali dalam melakukan transformasi digital tanpa kehilangan akar budaya adiluhung bangsa. -(tupasca)

Berita Terkait