|

Raih Doktor ke-183 UHN Sugriwa, Putu Subawa Bedah Cara Cerdas Bentuk Karakter Siswa SD Lewat Folklor Bali

Denpasar – Pembentukan karakter anak pada jenjang sekolah dasar memerlukan media didaktis yang kreatif, dekat dengan realitas budaya, serta kaya akan nilai-nilai moralitas luhur Nusantara. Di tengah era digitalisasi yang mengancam eksistensi tradisi lokal, internalisasi nilai susila Hindu tidak lagi efektif jika hanya disampaikan melalui metode ceramah tekstual konvensional. Cerita rakyat (folklor) Bali, dengan segala keunikan dongeng dan personifikasi nilainya, menyimpan potensi luar biasa sebagai instrumen edukasi karakter yang emosional sekaligus transformatif bagi mentalitas anak. Merespons pentingnya menghidupkan kembali sastra lisan tersebut, Program Pascasarjana Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar sukses menggelar ujian akademik tertinggi guna membedah rekonstruksi pedagogis berbasis kearifan lokal.

Adalah Putu Subawa, mahasiswa Program Doktor (S3) Ilmu Agama, yang sukses mempertahankan hasil penelitian puncaknya dalam Ujian Terbuka Disertasi pada Kamis (11/06/2026). Bertempat di Aula Pascasarjana UHN Sugriwa Denpasar, ia memaparkan secara lugas draf riset komprehensifnya yang bertajuk “Konstruksi Nilai Karakter Melalui Folklor Bali Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu Pada Siswa Sekolah Dasar Di Kabupaten Buleleng”. Sidang akademik terbuka ini menjadi pusat perhatian dunia pendidikan di Bali karena berhasil merumuskan model pemanfaatan warisan tutur leluhur sebagai media utama pembentukan watak generasi emas di Bali Utara.

Dalam pemaparan taktis selama 15 menit, Putu Subawa menjelaskan bahwa folklor Bali bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan sebuah instrumen konstruksi sosial-keagamaan yang kaya akan nilai Satya, Tat Twam Asi, dan Karma Phala. Melalui kacamata ilmu pendidikan agama Hindu, ia membedah bagaimana implementasi cerita rakyat di sekolah dasar Kabupaten Buleleng mampu merangsang daya imajinasi positif anak sekaligus menginternalisasikan etika secara bawah sadar. Langkah ini dinilai sangat efektif untuk membentuk budi pekerti luhur, kepekaan sosial, serta rasa cinta terhadap kebudayaan daerah sejak usia dini tanpa menimbulkan kesan mendikte.

Ketajaman visi serta argumentasi ilmiah Subawa dalam meretas konsep kearifan lokal ini diuji secara komprehensif oleh jajaran dewan penguji pakar yang sangat prestisius. Hadir sebagai barisan penguji utama, Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si, Dr. Heny Perbowosari, S.Ag., M.Pd, Prof. Dr. Dra. Relin D.E., M.Ag, serta Prof. Dr. Drs. I Nengah Lestawi, M.Si. Sesi diskusi akademik di Aula Pascasarjana berlangsung sangat dinamis, di mana para guru besar secara kritis menguliti ketepatan metodologi, analisis semiotika cerita, hingga model kurikulum aplikatif yang ditawarkan promovendus bagi para pendidik sekolah dasar.

Kualitas pertanggungjawaban disertasi monumental ini semakin disempurnakan melalui masukan strategis serta tanya jawab intensif bersama jajaran penguji ahli lainnya, yaitu Prof. Dr. Drs. I Wayan Wastawa, MA, Dr. Dra. Ni Nyoman Perni, M.Pd, Dr. I Made Dian Saputra, SS., M.Si, dan Dr. Putri Anggreni, SE., M.Pd. Ketangkasan ilmiah dan kematangan berpikir yang ditunjukkan Putu Subawa dalam mematahkan setiap sanggahan akademik berhasil memukau seisi ruangan sidang. Atas performa ilmiahnya yang luar biasa tersebut, dewan penguji sepakat menetapkan beliau berhak menyandang gelar Doktor Ilmu Agama ke-183 bagi Pascasarjana UHN Sugriwa dengan predikat kelulusan Sangat Memuaskan.

Keberhasilan dalam ujian terbuka ini menjadi capaian puncak yang membanggakan, sekaligus mengukuhkan posisi Dr. Putu Subawa di barisan akademisi dan pakar pedagogi Hindu Nusantara. Program Pascasarjana UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar menghaturkan ucapan selamat yang paling mendalam serta mendoakan agar gelar tertinggi ini senantiasa membawa berkah dan tuntunan luhur dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Semoga seluruh buah pemikiran spiritual-edukatif yang tertuang dalam disertasi ini mampu memberikan sumbangsih yang nyata bagi perkembangan kurikulum pendidikan dasar, serta menjadi suluh inspirasi bagi para guru dalam merawat moralitas bangsa yang berakar kuat pada nilai tradisi adiluhung.-(tupasca)

Berita Terkait