Kupas Teologi Taru Pramana Buleleng, Riset Doktor UHN Sugriwa Eka Sastrika Ayu Sukses Ujian Tertutup
Denpasar – Di era disrupsi medis modern, eksplorasi terhadap naskah sastra suci kuno yang memuat sistem pengobatan tradisional (usadha) kian menemukan relevansi strategisnya sebagai benteng kesehatan holistik berbasis kearifan lokal. Lontar Taru Pramana, sebagai salah satu warisan epistemologi agung di Bali, tidak hanya menyimpan cetak biru taksonomi herbal, melainkan juga sarat akan dimensi spiritual teologis mengenai penyembuhan. Merespons pentingnya membedah sekaligus melegitimasi nilai-nilai sakral tersebut secara ilmiah, Program Pascasarjana Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar menggelar ujian akademik tertinggi guna memetakan integrasi antara sosiologi kesehatan dan ketuhanan.
Adalah Putu Eka Sastrika Ayu, mahasiswa Program Doktor (S3) Ilmu Agama, yang sukses melewati tahapan krusial dalam Ujian Tertutup Disertasi pada Rabu (10/06/2026). Bertempat di ruang ujian Program S3 Doktor Ilmu Agama, ia mempertahankan draf riset mendalamnya yang bertajuk “Lontar Taru Pramana Pada Kehidupan Masyarakat Hindu di Kabupaten Buleleng (Kajian Teologi Hindu)”. Kajian teo-ekologis ini dinilai sangat berbobot dan orisinal karena berani menggali denyut keyakinan serta aplikabilitas pengobatan berbasis naskah lontar langsung di tengah masyarakat Bali Utara.
Dalam pemaparan taktis selama 15 menit, Eka Sastrika Ayu menjelaskan bahwa Lontar Taru Pramana di Kabupaten Buleleng bukan sekadar diposisikan sebagai buku resep herbal, melainkan sebuah panduan hidup sosioreligius. Melalui kacamata Teologi Hindu, ia membedah prinsip dasar bahwa setiap tumbuh-tumbuhan memiliki jiwa (pramana) dan kekuatan penyembuh yang bersumber langsung dari manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) sebagai Bhatara Dhanvantari. Riset ini mengungkap bahwa pemanfaatan tanaman obat oleh krama Buleleng didorong oleh kesadaran teologis yang mendalam, menciptakan harmoni sosiokultural antara manusia dan ekosistem alam sekitar (palemahan).
Ketajaman analisis Sastrika Ayu dalam merajut kaitan antara kosmologi tumbuhan dan teologi penyembuhan ini diuji secara komprehensif oleh jajaran dewan penguji pakar yang sangat prestisius. Hadir sebagai barisan penguji utama, Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si, bersama Dr. I Made Dian Saputra, SS., M.Si, Prof. Dr. Dra. Relin D.E., M.Ag, serta Prof. Dr. Drs. I Nyoman Linggih, M.Si. Sesi diskusi akademik di ruang ujian tertutup berlangsung sangat dinamis, di mana para guru besar menelisik lebih dalam mengenai validitas hermeneutika teks kuno tersebut agar mampu bertransformasi menjadi rujukan ilmiah di bidang etnomedisin Hindu kontemporer.
Kualitas pelaporan disertasi ini semakin dipertajam melalui masukan strategis serta tanya jawab intensif bersama jajaran dewan penguji lainnya, yaitu Prof. Dr. Made Sri Putri Purnamawati, S.Ag, MA., M.Erg, Prof. Dr. I Nyoman Alit Putrawan, S.Ag., M.Fil.H, Prof. Dr. I Nyoman Subagia, S.Ag., M.Ag, Prof. Dr. Ni Putu Winanti, S.Ag., M.Pd, dan Drs. I Ketut Donder, M.Ag., Ph.D. Ketangkasan promovenda dalam mempertahankan argumentasi ilmiahnya menunjukkan kesiapan mental yang matang serta penguasaan sosiologis yang kuat terhadap lokus penelitian. Jajaran penguji menekankan pentingnya riset ini sebagai pemikiran akademis yang memberikan kontribusi nyata bagi pelestarian budaya keagamaan.
Keberhasilan dalam ujian tertutup ini menjadi lompatan akhir yang mantap bagi Putu Eka Sastrika Ayu sebelum melangkah ke tahapan Promosi Doktor (Ujian Terbuka) demi menyandang gelar akademik tertinggi. Program Pascasarjana UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar senantiasa mendoakan dan berharap agar seluruh proses penyusunan disertasi ini ke depan diberikan kelancaran serta senantiasa dalam tuntunan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Semoga karya ilmiah yang dilahirkan dari riset ini mampu memberikan sumbangsih yang agung bagi perkembangan teologi Hindu Nusantara, serta menjadi model acuan praktis dalam merawat kesehatan masyarakat yang berakar pada kemurnian tradisi luhur Bali. -(tupasca)
