|

Kupas Teologi Mahayana dalam Ritual YU FO, Jimmu Goh Sukses Jalani Ujian Kualifikasi Disertasi S3 UHN Sugriwa

Denpasar – Kekayaan tradisi dan ritual keagamaan di Nusantara, khususnya dalam ajaran Buddhisme Mahayana, memiliki nilai teologis dan kultural yang sangat mendalam. Salah satu praktik spiritual yang sarat makna adalah ritual memandikan rupang Buddha atau yang lazim dikenal dengan sebutan Yu Fo. Mengakomodasi pentingnya kajian akademis lintas agama yang inklusif, Program Pascasarjana Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar kembali memfasilitasi mimbar akademik untuk membedah akar filosofis tradisi tersebut pada jenjang strata tertinggi.

Momen penting ini ditandai dengan dilaksanakannya Ujian Kualifikasi Disertasi oleh mahasiswa Program Doktor (S3) Ilmu Agama atas nama Jimmu Goh pada Selasa (23/06/2026). Bertempat di ruang ujian Program S3 Doktor Ilmu Agama, ia mengajukan rancangan penelitian yang berjudul “Ritual Puja Bakti YU FO Pratima Bayi Shakyamuni di Vihara Sakya Sakti Jakarta : Studi Kultural Teologis Budhdisme Mahayana”. Ujian kualifikasi ini menjadi tahapan krusial bagi promovendus untuk menguji kelayakan dan mematangkan arah risetnya.

Dalam sesi pemaparan yang berlangsung padat dan taktis selama 15 menit, Jimmu Goh menguraikan benang merah antara laku kebudayaan dan nilai teologi yang hidup di tengah keseharian umat. Ia menyoroti bagaimana ritual memandikan Pratima Bayi Pangeran Siddhartha (Shakyamuni) di Vihara Sakya Sakti Jakarta bukan sekadar perayaan seremonial peribadatan semata, melainkan wujud nyata penyucian batin sekaligus simbolisasi pembersihan klesha (kekotoran mental). Pendekatan kultural dan teologis Mahayana yang ditawarkannya dinilai mampu memberikan kebaruan perspektif dalam melihat akulturasi praktik keagamaan Buddha di lanskap urban ibu kota.

Pemaparan kerangka konseptual yang tajam tersebut kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan uji substansi oleh jajaran dewan penguji pakar yang sangat prestisius. Diskusi akademik di ruang ujian tertutup ini berlangsung sangat dinamis, dipimpin dan diuji langsung oleh deretan guru besar terkemuka, di antaranya Prof. Dr. Dra. Relin D.E., M.Ag dan Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si. Para penguji secara kritis menelisik fondasi metodologi, ketajaman rumusan masalah, serta relevansi sosiologis dari kajian ritual ini agar benar-benar memenuhi standar baku sebuah karya disertasi.

Sesi pendalaman materi proposal menjadi semakin komprehensif melalui masukan konstruktif dari jajaran penguji ahli lainnya yang turut hadir, yakni Prof. Dr. Drs. I Made Surada, MA, Dr. Drs. I Nyoman Ananda, M.Ag, serta Dr. Drs. I Made Wiradnyana, M.Hum. Deretan akademisi mumpuni ini memberikan arahan strategis guna mempertajam instrumen penelitian lapangan Jimmu Goh nantinya. Ketangkasan mahasiswa dalam merespons serta mengelaborasi setiap pertanyaan menunjukkan kesiapan intelektual yang matang untuk membawa riset ini ke tahapan selanjutnya.

Keberhasilan melewati ujian kualifikasi ini menjadi langkah awal yang mantap bagi Jimmu Goh dalam merajut karya ilmiah puncaknya. Segenap pimpinan dan keluarga besar Program Pascasarjana UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar senantiasa memberikan dukungan moral serta doa terbaik, semoga tahapan riset ke depannya diberikan kelancaran. Diharapkan karya disertasi ini nantinya mampu memberikan sumbangsih literasi yang berharga bagi khazanah teologi Buddhisme Mahayana di Indonesia, serta memperkokoh pilar pemahaman lintas agama di Nusantara. -(tupasca)

Berita Terkait