|

Raih Predikat Pujian, I Putu Bagus Suryadi Sah Jadi Doktor ke-187 UHN Sugriwa Lewat Riset Desa Wisata Jatiluwih

Denpasar – Sektor pariwisata Bali yang memikat dunia tidak sekadar bertumpu pada pesona alam, melainkan pada akar kekayaan budaya dan spiritualitas yang kuat. Di tengah arus modernisasi dan tantangan pariwisata global, konsep tata kelola pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) menjadi harga mati demi menjaga kelestarian ekosistem lingkungan serta kesucian adat. Filosofi Tri Hita Karana hadir sebagai instrumen vital dalam menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan ekologi tersebut. Merespons urgensi strategis ini, Program Pascasarjana Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar terus berkomitmen memfasilitasi riset-riset tingkat tinggi guna merumuskan tata kelola destinasi wisata yang ideal dan berakar pada kearifan lokal.

Adalah I Putu Bagus Suryadi, mahasiswa Program Doktor (S3) Ilmu Agama, yang sukses mencatatkan sejarah akademik gemilang melalui Ujian Terbuka Disertasi pada Selasa (23/06/2026). Bertempat di Auditorium Program Pascasarjana Jl. Kenyeri No. 57 Denapsar, ia tampil meyakinkan saat mempertahankan riset disertasinya yang bertajuk “Pengelolaan Desa Wisata Berkelanjutan Berbasis Tri Hita Karana di Desa Jatiluwih Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan”. Penelitian sosioreligius pariwisata ini memotret langsung denyut nadi pengelolaan ekowisata di kawasan Jatiluwih yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia dengan sistem subak dan lanskap teraseringnya yang eksotis.

Dalam pemaparan taktis selama 15 menit, Bagus Suryadi menguraikan secara lugas bagaimana konsistensi penerapan nilai Tri Hita Karana menjadi nyawa utama dari daya tarik Desa Wisata Jatiluwih. Ia membedah keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan (parhyangan), sesama manusia (pawongan), dan lingkungan alam (palemahan) sebagai determinan penggerak roda pariwisata. Risetnya membuktikan bahwa sinergi antara kesucian ritual komunal dan tata kelola ekonomi kreatif mampu menciptakan sistem ekowisata yang sukses menyejahterakan krama setempat tanpa harus mengorbankan kelestarian alam dan tatanan tradisi warisan leluhur.

Ketajaman analisis keilmuan dan visi promovendus ini kemudian diuji secara komprehensif dalam sesi tanya jawab oleh jajaran dewan penguji pakar yang sangat prestisius. Hadir menguliti argumen akademik tersebut sebagai barisan penguji utama adalah Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si, Prof. Dr. Drs. I Nengah Lestawi, M.Si, Prof. Dr. Dra. Relin D.E., M.Ag, Prof. Dr. I Nyoman Alit Putrawan, S.Ag., M.Fil.H, serta Prof. Dr. Drs. Ketut Sumadi, M.Par. Sidang berlangsung sangat dinamis, di mana para guru besar secara kritis menelisik model teo-ekologis yang ditawarkan agar memiliki indikator capaian yang terukur untuk keberlanjutan tata kelola desa wisata ke depannya.

Kualitas pertanggungjawaban ilmiah disertasi ini kian teruji tangguh saat menghadapi rentetan pertanyaan dari jajaran dewan penguji ahli lainnya, yakni Prof. Dr. I Gede Sutarya, SST.Par., M.Ag, Dr. I Made Arsa Wiguna, Sst.Par., M.Pd.H, Dr. I Made Dian Saputra, SS., M.Si, dan Dr. I Ketut Santra, M.Si. Ketenangan mental serta penguasaan data lapangan yang solid membuat Bagus Suryadi sukses mematahkan setiap sanggahan akademik dengan sempurna. Atas performa ilmiahnya yang memukau tersebut, dewan penguji sepakat menetapkannya sebagai lulusan Doktor Ilmu Agama ke-187 di lingkungan Pascasarjana UHN Sugriwa dengan menyematkan predikat kelulusan Dengan Pujian (Cum Laude).

Pencapaian gemilang dalam ujian terbuka ini tidak hanya menjadi wujud dedikasi pribadi, tetapi juga kontribusi nyata bagi dunia akademis dan industri pariwisata Nusantara. Segenap pimpinan dan keluarga besar Program Pascasarjana UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar menghaturkan ucapan selamat serta apresiasi yang setinggi-tingginya atas gelar keilmuan paripurna ini. Semoga gelar akademik tertinggi yang diraih senantiasa sebagai rujukan strategis bagi pemerintah dan pengelola desa wisata demi menjaga keajegan alam, manusia, dan budaya Bali. -(tupasca)

Berita Terkait