|

Filosofi Meru di Pesisir Jakarta, Mahasiswa S2 UHN Sugriwa I Made Suweta Paparkan Seminar Hasil Tesis Brahma Widya

Denpasar – Eksistensi arsitektur suci Hindu Bali di perantauan bukan sekadar replika fisik bangunan, melainkan manifestasi teologis yang kaya akan makna spiritual dan kosmologis. Di tengah dinamika megapolitan, ruang suci hadir sebagai jangkar spiritual yang menghubungkan umat dengan alam semesta. Merespons pentingnya menggali nilai esoteris tersebut, Program Pascasarjana Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar menggelar ujian akademik strategis guna mengupas tuntas filosofi arsitektur sakral yang berdiri kokoh di ibu kota negara.

Adalah I Made Suweta, mahasiswa Program Magister (S2) Brahma Widya, yang sukses memaparkan hasil penelitiannya dalam Ujian Pra Tesis/Seminar Hasil Penelitian pada Senin (18/05/2026). Bertempat di ruang ujian Program S2 Brahma Widya, ia mempertahankan riset mendalamnya yang bertajuk “Pelinggih Meru Sebagai Representasi Gunung Di Pura Segara Jakarta”. Penelitian ini dinilai sangat menarik dan memiliki nilai kontekstual yang tinggi karena memotret bagaimana konsep keluhuran gunung (bhuana agung) direpresentasikan secara teologis di wilayah pesisir Jakarta yang dikelilingi lautan.

Dalam pemaparan taktis selama 15 menit, I Made Suweta menjelaskan bahwa keberadaan Pelinggih Meru di Pura Segara Jakarta memiliki esensi spiritual yang sangat mendalam bagi umat Hindu di perantauan. Melalui kacamata teologi Brahma Widya, ia membedah bagaimana struktur Meru beratap tumpang tersebut berfungsi sebagai representasi Gunung Mahameru—stana para dewa sekaligus simbol sumbu alam semesta (axis mundi). Pertemuan antara konsep makrokosmos Meru (gunung) dan lokus Pura Segara (laut) menciptakan sebuah harmoni teologis Nyegara-Gunung yang unik di tengah atmosfer urban Jakarta.

Ketajaman analisis Suweta dalam mengaitkan arsitektur suci dengan teologi kosmis ini diuji langsung oleh jajaran dewan penguji pakar yang sangat kompeten di bidangnya. Hadir sebagai penguji utama, Drs. I Ketut Donder, M.Ag., Ph.D, bersama Dr. I Made Arsa Wiguna, Sst.Par., M.Pd.H, secara kritis memberikan bedah mendalam terkait kerangka teoretis sosioreligius yang digunakan. Sesi diskusi akademik berlangsung dinamis, menelisik bagaimana pemaknaan umat Hindu di Jakarta terhadap Pelinggih Meru tersebut mampu menjaga ketahanan spiritual mereka di tengah derasnya arus modernisasi kota besar.

Kualitas hasil penelitian ini semakin diperkuat melalui masukan taktis serta tanya jawab intensif bersama Dr. Drs. I Made Girinata, M.Ag dan Dr. I Made Adi Brahman, S.Ag., M.Fil.H. Para dewan penguji memberikan arahan penting mengenai penguatan metodologi dan interpretasi simbol-simbol arsitektur tradisional Bali di luar daerah asalnya. Sesi ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa untuk mempertajam argumentasi ilmiahnya, sehingga draf tesis ini siap melangkah ke tahap penyempurnaan akhir dengan landasan literatur yang kokoh dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.

Keberhasilan dalam seminar hasil penelitian ini menjadi batu pijakan awal yang mantap bagi I Made Suweta untuk menuntaskan studinya demi meraih gelar Magister Agama (M.Ag). Program Pascasarjana UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar senantiasa mendoakan dan berharap agar seluruh proses penyelesaian tesis ini ke depan diberikan kelancaran serta senantiasa dalam tuntunan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Semoga karya ilmiah yang dilahirkan dari riset ini mampu memberikan sumbangsih yang agung bagi perkembangan ilmu Brahma Widya, serta memperkaya khazanah literatur mengenai arsitektur suci Hindu Nusantara. -(tupasca)

Berita Terkait