|

Mengulas Teologi Kematian Simbolis: Mahasiswa S2 UHN Sugriwa Bedah Makna ‘Seda Raga’ dalam Upacara Diksa Pandita

Denpasar – Prosesi penyucian diri menjadi seorang sulinggih merupakan tahapan spiritual tertinggi dalam agama Hindu yang sarat akan makna teologis mendalam. Salah satu fenomena yang paling krusial namun jarang dibahas secara luas adalah konsep “kematian simbolis” sebelum lahir kembali menjadi sosok yang suci. Hal inilah yang mendorong munculnya riset akademik strategis di Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.

Adalah Gusti Ngurah Priyastara, mahasiswa Program Magister (S2) Brahma Widya, yang sukses memaparkan rancangan risetnya dalam Ujian Pra Tesis pada Selasa (12/05/2026). Bertempat di ruang ujian Program S2 Brahma Widya, ia mengangkat judul penelitian yang sangat mendalam, yakni “Teologi Seda Raga Dalam Upacara Diksa Pandita Di Kabupaten Gianyar”.

Dalam pemaparan taktis selama 15 menit, Priyastara menjelaskan bahwa Seda Raga merupakan inti dari transformasi spiritual seorang calon Pandita. Ia membedah bagaimana perspektif teologi Hindu memandang pelepasan ikatan keduniawian (kematian raga) sebagai syarat mutlak untuk mencapai kesadaran ruhani yang baru. Riset ini mengambil lokus di Kabupaten Gianyar, yang dikenal masih memegang teguh tradisi padiksan dengan pakem yang sangat kuat.

Diskusi akademik berlangsung khidmat namun kritis bersama jajaran dewan penguji pakar yang terdiri dari Dr. I Gede Suwantana, M.Ag dan Dr. I Made Adi Brahman, S.Ag., M.Fil.H. Dalam sesi tanya jawab selama 15 menit, para penguji menelisik kedalaman literatur dan metode pendekatan yang digunakan untuk mengungkap aspek esoteris dari ritual Seda Raga tersebut. Masukan strategis diberikan guna memastikan riset ini mampu menjadi literatur teologi yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Sesi ujian ini merupakan langkah awal yang krusial bagi Gusti Ngurah Priyastara dalam menuntaskan studi magisternya. Ketangkasannya dalam merespons pertanyaan kritis menunjukkan penguasaan materi yang matang terhadap nilai-nilai Brahma Widya. Penelitian ini diharapkan tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga memberikan pemahaman yang lebih jernih bagi masyarakat mengenai sakralitas prosesi menjadi seorang pemimpin spiritual di Bali.

Keberhasilan seminar pra tesis ini menegaskan komitmen Pascasarjana UHN Sugriwa dalam melestarikan sekaligus mendokumentasikan nilai-nilai luhur agama Hindu melalui jalur intelektual. Teriring doa dan harapan terbaik, semoga proses penelitian lapangan selanjutnya senantiasa diberikan kelancaran hingga tahap ujian akhir. Sebuah langkah nyata dalam menjaga nyala api spiritualitas Hindu di tanah Bali melalui bingkai pemikiran ilmiah. -(tupasca)

Berita Terkait