|

Kupas Komunikasi Kesehatan Sangging Saat Mesangih, Nyoman Gejir Raih Doktor Cum Laude UHN Sugriwa

Denpasar – Ritual suci potong gigi atau Mesangih di Bali merupakan salah satu fase pendewasaan spiritual yang esensial bagi umat Hindu. Dalam pelaksanaannya, peran seorang Sangging (pemotong gigi) sangatlah vital, tidak hanya menyangkut ketepatan prosesi teologis, tetapi juga kedisiplinan pada standar kebersihan dan kesehatan. Kolaborasi antara ketaatan pada dresta (tradisi) dan penerapan kaidah kesehatan modern menjadi tantangan tersendiri yang membutuhkan pola komunikasi yang membumi. Merespons urgensi pelestarian ritual yang aman tersebut, Program Pascasarjana Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar kembali mencetak akademisi unggul yang sukses membedah fenomena interaksi ini di tataran doktoral.

Momen puncak pencapaian akademik ini berlangsung dalam Sidang Akademik Ujian Terbuka Disertasi oleh promovendus atas nama Nyoman Gejir pada Rabu (22/07/2026). Bertempat di Auditorium Program Pascasarjana, Nyoman Gejir tampil meyakinkan saat mempertahankan karya riset puncaknya yang berjudul “Human Communication dalam Penguatan Pengetahuan Sangging Tentang Kesehatan pada Upacara Mesangih di Desa Mas Kecamatan Ubud Kabupaten Gianyar”. Ujian terbuka ini sekaligus menorehkan tinta emas dalam sejarah program studi, mendaulatnya secara sah sebagai lulusan Doktor Ilmu Komunikasi Hindu ke-3.

Dalam sesi pemaparan taktis dan lugas yang berdurasi 15 menit, Nyoman Gejir menguraikan bagaimana human communication atau komunikasi antarmanusia menjadi instrumen kunci dalam mengedukasi para Sangging. Ia memotret realitas di Desa Mas, Ubud, di mana pendekatan komunikasi interpersonal yang persuasif, humanis, dan berbasis budaya terbukti sukses memperkuat pemahaman Sangging terkait pentingnya sterilisasi alat, kebersihan diri, dan mitigasi penularan penyakit saat bertugas. Riset ini menegaskan bahwa nilai-nilai keluhuran yadnya dan protokol kesehatan mutakhir dapat bersinergi sempurna melalui strategi komunikasi yang tepat sasaran.

Ketajaman argumentasi dan konstruksi teori komunikasi budaya yang ditawarkan kemudian diuji secara mendalam melalui sesi tanya jawab bergengsi. Sidang akademik ini dipimpin dan diuji langsung oleh dewan pakar lintas disiplin, di antaranya Prof. Dr. I Nyoman Subagia, S.Ag., M.Ag, Dr. I Nyoman Kiriana, S.Ag., MA, Prof. Dr. Dra. Relin D.E., M.Ag, serta Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si. Hadir pula pakar kesehatan, Dr. I Putu Suiraoka, S.ST, M.Kes, yang secara khusus menelisik validitas materi edukasi klinis yang diinternalisasikan melalui komunikasi adat kepada para Sangging di lapangan.

Fase pendalaman disertasi kian dinamis dengan rentetan sanggahan kritis dari jajaran dewan penguji ahli lainnya, yakni Prof. Dr. Drs. Ketut Sumadi, M.Par, Dr. I Made Dian Saputra, SS., M.Si, Dr. Pande Wayan Renawati, SH, M.Si, dan Dr. I Made Adi Surya Pradnya, S.Ag., M.Fil.H. Ketenangan mental, kelugasan bertutur, serta penguasaan data empiris yang sangat matang membuat Nyoman Gejir sukses menjawab seluruh pertanyaan dengan argumen yang solid. Atas kualitas riset aplikatif dan performa memukau di ruang sidang tersebut, dewan penguji sepakat bulat menganugerahkan kelulusan kepadanya dengan predikat tertinggi, yakni Dengan Pujian (Cum Laude).

Segenap pimpinan, jajaran dosen, dan keluarga besar Program Pascasarjana UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar menghaturkan ucapan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya atas pencapaian paripurna gelar Doktor Ilmu Komunikasi Hindu ini. Semoga penganugerahan gelar keilmuan ini senantiasa dibimbing oleh cahaya suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa, membawa keberkahan yang berlimpah, serta menjadikan hasil riset ini sebagai rujukan strategis dalam mewujudkan tata laksana yadnya yang aman, sehat, dan berlandaskan kearifan lokal Bali. -(tupasca)

Berita Terkait