|

Bedah Ekologi Subak Lewat Ritual Masembuhan, I Putu Agus Aryatnaya Giri Sukses Jalani Ujian Tertutup S3 UHN Sugriwa

Denpasar – Sistem pengairan tradisional Bali, Subak, bukan sekadar organisasi agraris pengatur irigasi, melainkan manifestasi nyata konsep Tri Hita Karana yang merajut keharmonisan hubungan manusia dengan alam. Di tengah ancaman krisis ekologi global, kearifan lokal agraria ini menyimpan nilai-nilai teologis dan ekologis yang sangat mendalam untuk digali dan dilestarikan. Menyadari urgensi tersebut, Program Pascasarjana Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar kembali mengawal riset doktoral berkualitas tinggi yang mengupas tuntas dimensi spiritual lingkungan.

Komitmen akademik tersebut dibuktikan melalui pelaksanaan Sidang Ujian Tertutup Disertasi oleh mahasiswa Program Doktor (S3) Ilmu Agama atas nama I Putu Agus Aryatnaya Giri pada Kamis (13/08/2026). Bertempat di ruang ujian Program S3 Doktor Ilmu Agama, promovendus tampil tenang, fokus, dan penuh persiapan dalam mempertanggungjawabkan karya ilmiah puncaknya. Penelitian mendalam yang diusungnya mengangkat judul “Kontruksi Ekologi Hindu Berbasis Subak Dalam Upacara Masembuhan Di Subak Gubug Desa Sudimara Kecamatan Tabanan Kabupaten Tabanan”.

Dalam sesi pemaparan terstruktur yang berlangsung selama 15 menit, I Putu Agus Aryatnaya Giri menguraikan konstruksi ekologi Hindu yang tercermin dalam tradisi upacara Masembuhan di Subak Gubug, Tabanan. Ia membedah bagaimana ritual agraris tersebut berfungsi sebagai media pemujaan sekaligus bentuk pelestarian lingkungan hidup berbasis kesadaran teologis. Temuan riset ini memberikan kontribusi teoretis bahwa kearifan lokal subak memiliki sistem manajemen ekologi yang sangat komprehensif dalam menjaga keseimbangan alam semesta.

Paparan kerangka konseptual dan temuan empiris tersebut kemudian diuji secara ketat melalui sesi tanya jawab yang dinamis oleh jajaran dewan penguji pakar. Sidang tertutup ini menghadirkan barisan guru besar dan akademisi terkemuka, di antaranya Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si, Prof. Dr. I Nyoman Yoga Segara, S.Ag., M.Hum, Prof. Dr. Dra. Relin D.E., M.Ag, Dr. I Ketut Gunarta, S.Ag., M.Ag, serta Dr. I Gusti Made Widya Sena, S.Ag., M.Fil.H. Para penguji utama secara kritis menelisik kedalaman pisau analisis teologi ekologi serta validitas data yang disajikan promovendus.

Sesi pendalaman materi berlangsung kian komprehensif berkat rentetan pertanyaan kritis dan masukan konstruktif dari dewan penguji ahli lainnya, yakni Dr. I Made Dian Saputra, SS., M.Si, Dr. Drs. I Nyoman Ananda, M.Ag, Prof. Dr. Drs. I Made Sugata, M.Ag., dan Dr. Drs. I Made Wiradnyana, M.Hum. Berbekal penguasaan materi yang matang serta argumentasi ilmiah yang kokoh, I Putu Agus Aryatnaya Giri sukses menjawab setiap sanggahan dewan penguji dengan sangat memuaskan, sekaligus membuktikan kelayakan risetnya menuju tahapan sidang promosi terbuka.

Tuntasnya tahapan ujian tertutup ini menjadi tonggak sejarah penting bagi promovendus dalam merampungkan studi doktoralnya. Segenap pimpinan, jajaran dosen, dan keluarga besar Program Pascasarjana UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya serta doa terbaik agar seluruh proses penyempurnaan disertasi berjalan lancar. Semoga hasil kajian ekologi Hindu berbasis subak ini kelak memberikan sumbangsih nyata bagi pelestarian lingkungan dan budaya Bali, serta senantiasa mendapatkan anugerah kerahayuan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. -(tupasca)

Berita Terkait