Kupas Filosofi Ahimsa, Mahasiswa S3 UHN Sugriwa Sarono Bedah Konsep Anti Kekerasan dalam Ujian Kualifikasi Disertasi
Denpasar – Penguatan pilar moderasi beragama di Indonesia memerlukan penggalian prinsip-prinsip teologis dan filosofis yang mendalam dari berbagai khazanah ajaran agama guna membendung arus radikalisme serta intoleransi. Di tengah dinamika global yang sarat akan potensi gesekan sosial, komitmen untuk menghadirkan ruang hidup yang damai menuntut adanya kajian inklusif yang melintasi batas-batas dogmatis. Merespons urgensi kebangsaan tersebut, Program Pascasarjana Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar terus membuktikan perannya sebagai episentrum kajian interreligius melalui pengujian riset-riset strategis tingkat doktoral yang berwawasan kebangsaan.
Adalah Sarono, mahasiswa Program Doktor (S3) Ilmu Agama, yang sukses melewati tahapan krusial dalam Ujian Kualifikasi Disertasi pada Rabu (03/06/2026). Bertempat di ruang ujian Program S3 Doktor Ilmu Agama, ia mempertahankan draf rancangan riset doktoralnya yang bertajuk “Konsep Anti Kekerasan Sebagai Landasan Moderasi Beragama (Perspektif Agama Buddha)”. Kajian ini dinilai sangat berbobot dan menyejukkan karena secara spesifik berupaya mengelaborasi nilai universal non-kekerasan (ahimsa) ke dalam bingkai besar penguatan moderasi beragama di tanah air.
Dalam pemaparan taktis selama 15 menit, Sarono menjelaskan bahwa esensi dasar dari ajaran Buddha menolak segala bentuk kekerasan, baik dalam wujud tindakan fisik, ucapan, maupun pikiran. Melalui kacamata filosofis dan sosiologi agama, ia membedah bagaimana prinsip cinta kasih universal (metta) dan kasih sayang (karuna) dapat dikonstruksikan secara nyata sebagai fondasi psikologis umat dalam menyikapi perbedaan keyakinan. Pendekatan ini diambil guna merumuskan model moderasi beragama yang aplikatif, di mana kesadaran anti-kekerasan mampu mentransformasi pola pikir masyarakat menjadi lebih humanis, toleran, dan adaptif terhadap pluralisme bangsa.
Ketajaman visi serta argumentasi ilmiah Sarono dalam meretas konsep perdamaian lintas iman ini diuji secara ketat oleh jajaran dewan penguji pakar yang sangat kompeten di bidangnya. Hadir sebagai barisan penguji utama, Prof. Dr. I Nyoman Subagia, S.Ag., M.Ag, bersama Prof. Dr. Drs. I Made Surada, MA, secara kritis membedah landasan teori serta ketepatan pisau analisis yang digunakan oleh peneliti. Sesi diskusi akademik di ruang ujian kualifikasi berlangsung sangat dinamis, menelisik sisi orisinalitas riset serta relevansi teologi Buddha dalam merajut kerukunan horizontal di Indonesia.
Kualitas rancangan disertasi ini semakin dipertajam melalui masukan strategis serta tanya jawab intensif bersama jajaran penguji lainnya, yaitu Dr. I Nyoman Kiriana, S.Ag., MA, Dr. I Made Adi Surya Pradnya, S.Ag., M.Fil.H, dan Dr. Poniman, S.Ag., M.Fil.H. Para dewan pakar memberikan arahan penting mengenai penguatan metodologi dan hermeneutika teks-teks suci agar riset ini mampu menghasilkan kesimpulan akademis yang objektif, komprehensif, serta berdaya jangkau luas. Sesi tanya jawab tersebut menjadi momentum berharga bagi mahasiswa untuk mempertahankan argumentasi ilmiahnya sekaligus mematangkan draf penelitiannya ke tahap pengumpulan data yang lebih mendalam.
Keberhasilan dalam ujian kualifikasi ini menjadi batu pijakan awal yang mantap bagi Sarono untuk menuntaskan penelitian lapangannya demi meraih gelar akademik tertinggi Doktor Ilmu Agama. Program Pascasarjana UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar senantiasa mendoakan dan berharap agar seluruh tahapan penyusunan disertasi ini ke depan diberikan kelancaran serta senantiasa berada dalam lindungan dan tuntunan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa. Semoga karya ilmiah yang dilahirkan dari riset ini mampu memberikan sumbangsih yang agung bagi perkembangan ilmu agama dan moderasi, serta menjadi suluh yang menginspirasi dalam merawat marwah keharmonisan dan perdamaian di bumi Nusantara. -(tupasca)
