Kupas Makna Sakral Tirtha untuk Pengobatan, Ni Ketut Sri Laksmi Sukses Jalani Ujian Tesis S2 Brahma Widya UHN Sugriwa
Denpasar – Penggunaan air suci atau tirtha dalam tradisi masyarakat Hindu di Bali tidak hanya berdimensi sakral sebagai sarana persembahyangan semata, melainkan juga diyakini memiliki kekuatan transendental untuk penyembuhan holistik. Praktik pengobatan tradisional yang mewarisi kearifan leluhur ini terus hidup berdampingan dengan dinamika kesehatan modern. Menyadari pentingnya mengkaji fenomena penyembuhan berbasis kearifan lokal tersebut dari sudut pandang akademis, Program Pascasarjana Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar kembali memfasilitasi riset mendalam di jenjang strata dua.
Komitmen akademik tersebut nampak nyata melalui pelaksanaan Ujian Tesis oleh mahasiswa Program Studi Magister (S2) Brahma Widya atas nama Ni Ketut Sri Laksmi pada Kamis (30/07/2026). Bertempat di ruang ujian Program S2 Brahma Widya, promovendus tampil tenang, fokus, dan penuh penguasaan materi guna mempertahankan hasil karya ilmiah akhirnya. Adapun topik tesis yang diangkat sarat akan muatan budaya dan spiritualitas Nusantara, yakni “Air Suci (Tirtha) Sebagai Media Penyembuhan: Studi Etnografi Tentang Makna Dan Praktik Malukat Dalam Pengobatan Tradisional Bali”.
Dalam sesi pemaparan lugas dan taktis yang berdurasi selama 15 menit, Ni Ketut Sri Laksmi menguraikan bagaimana tradisi malukat dan pemanfaatan tirtha tidak sekadar menjadi ritual pembersihan fisik semata, melainkan sarana penyembuhan psikologis dan spiritual. Melalui pendekatan etnografi yang mendalam, ia membedah bagaimana makna simbolik air suci diintegrasikan oleh para praktisi pengobatan tradisional di Bali dalam merawat kesehatan umat. Riset ini memberikan pencerahan bahwa warisan leluhur tersebut memiliki fondasi teologis dan sosiologis yang sangat kuat dalam menjaga keseimbangan bhuana alit dan bhuana agung.
Pemaparan kerangka konseptual serta temuan lapangan yang tajam tersebut kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab serta uji substansi oleh jajaran dewan penguji pakar yang hadir. Sidang akademik ini dipimpin dan diuji langsung oleh deretan akademisi mumpuni, di antaranya Dr. I Gede Suwantana, M.Ag dan Dr. I Made Adi Brahman, S.Ag., M.Fil.H. Para penguji secara kritis menelisik validitas data etnografi, ketepatan metode penelitian kualitatif, serta kedalaman analisis teologis yang dibangun oleh mahasiswa terhadap praktik pengobatan tradisional tersebut.
Sesi pendalaman materi tesis kian komprehensif melalui masukan, kritik konstruktif, serta saran penyempurnaan dari jajaran dewan penguji ahli lainnya, yakni Dr. Drs. I Made Girinata, M.Ag dan Dr. I Made Dian Saputra, SS., M.Si. Berbekal penguasaan literatur keagamaan yang matang dan ketenangan mental yang prima, Ni Ketut Sri Laksmi sukses menjawab setiap pertanyaan penguji dengan argumen ilmiah yang sangat memuaskan, mencerminkan kualitas akademik tingkat magister yang mumpuni.
Kelancaran dalam melewati tahapan ujian tesis ini menjadi penanda tuntasnya perjuangan akademik bagi Ni Ketut Sri Laksmi dalam meraih gelar magisternya. Segenap pimpinan dan keluarga besar Program Pascasarjana UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya serta doa terbaik agar proses penyempurnaan naskah tesis berjalan lancar. Semoga hasil riset etnografi ini kelak mampu memberikan sumbangsih literasi yang berharga bagi pelestarian pengobatan tradisional berbasis kearifan lokal Hindu, serta senantiasa membawa pencerahan dan kerahayuan di bawah tuntunan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. -(tupasca)
