|

Konstruksi Karakter Lewat Folklor Bali, Mahasiswa S3 UHN Sugriwa Bedah Inovasi Pendidikan Agama di Buleleng

Denpasar – Pendidikan karakter berbasis kearifan lokal kini menjadi isu sentral dalam dunia pendidikan dasar di Bali. Menanggapi tantangan tersebut, Program Pascasarjana Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar menggelar ujian akademik penting yang mengeksplorasi kekuatan folklor sebagai media pembelajaran bagi generasi muda.

Mahasiswa Program Doktor (S3) Ilmu Agama, Putu Subawa, sukses melaksanakan Ujian Seminar Hasil Disertasi pada Senin (13/4/2026). Bertempat di ruang ujian gedung Putu Subawa, ia mempertahankan hasil penelitiannya yang bertajuk “Konstruksi Nilai Karakter Melalui Folklor Bali Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu Pada Siswa Sekolah Dasar Di Kabupaten Buleleng”. Riset ini dinilai memberikan warna baru dalam metodologi pengajaran agama di sekolah dasar.

Dalam pemaparan komprehensif selama 15 menit, Putu Subawa mengungkapkan bahwa folklor atau cerita rakyat Bali bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan instrumen komunikasi pendidikan yang efektif. Di Kabupaten Buleleng, penggunaan folklor terbukti mampu mengonstruksi nilai-nilai karakter siswa secara lebih organik dan menyenangkan, sehingga ajaran agama Hindu dapat diserap dengan lebih mendalam melalui narasi budaya yang akrab dengan kehidupan mereka.

Ketajaman hasil penelitian ini diuji langsung oleh dewan penguji yang dipimpin oleh Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si. Bersama para pakar lainnya seperti Dr. Heny Perbowosari, S.Ag., M.Pd dan Dr. Dra. Ni Nyoman Perni, M.Pd, sidang berlangsung dinamis. Para penguji menelisik sejauh mana efektivitas implementasi folklor ini mampu membentuk mentalitas siswa SD di tengah gempuran arus digitalisasi yang masif.

Diskusi akademik semakin mendalam dengan masukan dari Prof. Dr. Drs. I Nengah Lestawi, M.Si, Dr. Dra. Ni Wayan Sariani Binawati, M.Ag, serta Prof. Dr. Drs. I Wayan Wastawa, MA. Pengujian juga diperkuat oleh Dr. I Made Dian Saputra, SS., M.Si, yang menyoroti aspek keberlanjutan dari model pembelajaran berbasis folklor ini agar bisa diadaptasi secara luas di berbagai tingkat pendidikan dasar lainnya di Bali.

Seminar hasil ini merupakan tonggak krusial bagi Putu Subawa menuju tahap akhir studi doktoralnya. Diharapkan, temuan dalam disertasi ini dapat menjadi referensi strategis bagi para pendidik dalam mentransformasi nilai-nilai agama Hindu melalui media budaya lokal yang relevan. Teriring doa dan harapan, semoga hasil kerja keras ini senantiasa memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan Hindu dan kelestarian jati diri budaya Bali bagi generasi mendatang.-(Tupasca)

Berita Terkait