Kukuhkan 301 Mahasiswa Baru, Pascasarjana UHN Sugriwa Gelar Ritual Suci Upanayana Secara Hibrida

Denpasar – Rangkaian penerimaan mahasiswa baru Pascasarjana Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar bermuara pada pelaksanaan ritus sakral Mahasisya Upanayana atau upacara Pawintenan pada Jumat (11/9/2026). Kegiatan spiritual yang menyasar 301 mahasiswa baru dari delapan program studi jenjang S2 dan S3 ini dilangsungkan secara hibrida. Tercatat sebanyak 46 mahasiswa mengikuti prosesi secara daring, sementara ratusan peserta lainnya hadir memadati lokasi acara secara luring.

Sebagai puncak pencerahan rohani, Rektor UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si., hadir langsung memberikan dharma wacana di hadapan seluruh mahasiswa baru. Wejangan spiritual dari pucuk pimpinan universitas ini menjadi fondasi esensial bagi para mahasiswa sebelum mereka resmi mengarungi dinamika kehidupan akademik dan tugas riset di kampus Hindu negeri kebanggaan masyarakat Bali tersebut.

Lebih lanjut, Direktur Pascasarjana dalam arahannya turut membedah kedalaman makna dari upacara penyucian ini. Ia memaparkan bahwa secara etimologi Sanskerta, kata Upanayana terbentuk dari kata ‘upa’ yang berarti duduk atau dekat, serta ‘nayana’ yang bermakna menuntut. Melalui prosesi pawintenan ini, mahasiswa secara simbolis diantarkan untuk semakin dekat dengan ilmu pengetahuan serta perlindungan Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Dewi Saraswati.

Ritual suci ini juga sarat akan simbolisme filosofis, salah satunya tampak pada penggunaan sarana daun sirih, kapur (pamur), gambir, hingga buah pinang muda. Perpaduan rasa pahit, asam, dan sepat dari sarana tersebut merepresentasikan dinamika manis-pahitnya kehidupan yang kelak dihadapi para mahasiswa. Esensi utama dari ritual ini adalah untuk menjernihkan pikiran yang kerap berubah dengan cepat, sehingga mahasiswa dapat fokus dalam menyerap ilmu dari para dosen secara maksimal.

Selain penajaman nilai spiritual, mahasiswa diwajibkan untuk mematuhi ajaran Brahmacari dengan fokus penuh pada pendidikan, serta mengamalkan Guru Sewana atau penghormatan kepada ajaran catur guru. Secara tegas, mahasiswa diingatkan untuk menjunjung tinggi integritas kebenaran ilmiah dan dilarang memalsukan data riset lapangan. Lulusan Pascasarjana dituntut untuk menjadi teladan (role model) yang berdampak positif bagi keluarga, lingkungan kerja, hingga nusa dan bangsa.

Sebagai penutup, turut ditekankan pentingnya merawat kerukunan di tengah pluralitas mahasiswa Pascasarjana yang berasal dari keberagaman etnis dan latar belakang. Keharmonisan antar-mahasiswa maupun dengan seluruh sivitas akademika dipercaya menjadi kunci kelancaran studi dan pendorong ketepatan waktu kelulusan. Rangkaian upacara Upanayana ini diharapkan sukses merajut ikatan persaudaraan yang utuh, sejalan dengan napas moderasi beragama dari Kementerian Agama RI. -(tupasca) #pascaHEBAT

Berita Terkait