Kupas Tradisi Aguron-Guron, Mahasiswa S3 UHN Sugriwa Ida Ayu Gde Wulandari Sukses Seminar Proposal Disertasi
Denpasar – Pendidikan formal bagi seorang calon sulinggih atau pendeta Hindu tidak hanya menuntut penguasaan materi sastra suci, melainkan juga memerlukan pendalaman praktik tradisi aguron-guron yang intensif. Sebagai proses transmisi ilmu dari guru kepada murid di lingkungan griya, metode ini menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter, kedalaman spiritual, serta kematangan etika seorang pemimpin umat. Merespons pentingnya revitalisasi metode pendidikan tradisional yang otentik ini, Program Pascasarjana Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar menggelar ujian akademik strategis guna mengupas tata kelola pendidikan calon sulinggih di Bali.
Adalah Ida Ayu Gde Wulandari, mahasiswa Program Doktor (S3) Ilmu Agama, yang sukses mempertahankan rancangan risetnya dalam Ujian Proposal Disertasi pada Kamis (04/06/2026). Bertempat di ruang ujian Program S3 Doktor Ilmu Agama, ia memaparkan rencana penelitian mendalamnya yang bertajuk “Implementasi Pendidikan Informal Calon Sulinggih Melalui Aguron-Guron: Analisis Studi pada Griya-Griya di Kabupaten Klungkung”. Riset ini dinilai sangat krusial dan memiliki urgensi pelestarian tradisi yang tinggi karena berupaya memetakan pola transmisi pengetahuan spiritual di wilayah yang dikenal sebagai pusat pengembangan intelektual Hindu tersebut.
Dalam pemaparan taktis selama 15 menit, Wulandari menjelaskan bahwa pendidikan aguron-guron merupakan sistem pendidikan informal yang unik, di mana calon sulinggih tidak sekadar belajar secara tekstual, melainkan melalui proses pengabdian dan pengamatan langsung keseharian guru. Melalui kacamata teologi dan pedagogi Hindu, ia membedah bagaimana pola pendidikan di griya-griya Kabupaten Klungkung ini mampu membangun ketahanan mental serta kemurnian niat seorang calon pandita. Langkah penelitian ini diambil untuk menguak efektivitas metode tradisional tersebut dalam membentuk sosok sulinggih yang mumpuni di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
Ketajaman visi Wulandari dalam meretas nilai esoteris pendidikan calon pandita ini diuji secara ketat oleh jajaran dewan penguji pakar yang sangat kompeten di bidangnya. Hadir sebagai penguji utama, Prof. Dr. Dra. Relin D.E., M.Ag, bersama Dr. I Made Dian Saputra, SS., M.Si, secara kritis membedah landasan teoretis serta ketepatan metodologi kualitatif yang digunakan peneliti. Sesi diskusi akademik berlangsung sangat dinamis, di mana para dewan pakar menelisik kedalaman makna aguron-guron serta bagaimana metode ini dapat dipertahankan sebagai sistem pendidikan eksklusif sekaligus religius di era modern.
Kualitas rancangan disertasi ini semakin dipertajam melalui masukan strategis serta tanya jawab intensif bersama jajaran penguji lainnya, yaitu Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si, Dr. Dra. Ni Wayan Sariani Binawati, M.Ag, Dr. Drs. Marsono, M.Pd.H, Dr. I Gusti Made Widya Sena, S.Ag., M.Fil.H, dan Dr. I Made Dwitayasa, S.Ag., M.Fil.H. Para dewan penguji memberikan arahan penting mengenai penguatan data lapangan agar penelitian ini dapat menghasilkan blueprint pendidikan calon sulinggih yang sistematis dan tetap menjaga pakem sastra agama. Sesi tanya jawab tersebut menjadi momentum berharga bagi mahasiswa untuk memperkuat argumentasi ilmiahnya sebelum melangkah ke tahap pengumpulan data yang lebih mendalam.
Keberhasilan dalam seminar proposal ini menjadi batu pijakan awal yang mantap bagi Ida Ayu Gde Wulandari untuk menuntaskan studinya demi meraih gelar akademik tertinggi. Program Pascasarjana UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar senantiasa mendoakan dan berharap agar seluruh proses penelitian lapangan serta penyusunan disertasi ini ke depan diberikan kelancaran serta senantiasa dalam tuntunan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Semoga karya ilmiah yang dilahirkan dari riset ini mampu memberikan sumbangsih yang agung bagi perkembangan ilmu pendidikan agama Hindu, serta menjadi literatur berharga dalam melestarikan sistem pendidikan suci para sulinggih bagi generasi mendatang. -(tupasca)
