|

Kupas Makna ‘Mendem Banten’, Mahasiswa S2 UHN Sugriwa Adhi Satria Bedah Ritual Ngenteg Linggih di Gianyar

Denpasar – Ritual Ngenteg Linggih merupakan puncak spiritualitas bagi masyarakat Hindu di Bali dalam menetapkan kesucian suatu tempat suci atau Pura. Di balik kemegahan upacara tersebut, terdapat rangkaian ritual esoteris yang krusial, salah satunya adalah Mendem Banten Panyejeg dan Pangenteg. Merespons pentingnya membedah makna teologis serta presisi teknis ritual tersebut agar tidak hilang ditelan zaman, Program Pascasarjana Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar terus berkomitmen memfasilitasi riset-riset mendalam terkait warisan tradisi leluhur.

Adalah Pande Made Adhi Satria Wicaksana, mahasiswa Program Magister (S2) Brahma Widya, yang sukses mempertahankan hasil penelitiannya dalam Ujian Tesis pada Selasa (02/06/2026). Bertempat di ruang ujian Program S2 Brahma Widya, ia memaparkan draf riset komprehensifnya yang bertajuk “Mendem Banten Panyejeg Dan Pangenteg Dalam Upacara Ngenteg Linggih Di Merajan Ageng Pande Tusan Merangi Tulikup, Desa Tulikup, Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali”. Penelitian ini dinilai sangat berbobot dan memiliki urgensi pelestarian budaya yang tinggi karena memotret langsung implementasi ritual di sebuah Merajan Ageng yang sarat akan nilai historis dan spiritual.

Dalam pemaparan taktis selama 15 menit, Adhi Satria menjelaskan bahwa ritual Mendem Banten Panyejeg dan Pangenteg merupakan fondasi metafisika dalam menetapkan energi suci agar tetap stabil dan kokoh di tempatnya (Ngenteg Linggih). Melalui kacamata ilmu Brahma Widya, ia menguraikan bagaimana simbol-simbol dalam banten tersebut berfungsi sebagai sarana penyatuan energi dari Tuhan Yang Maha Esa ke dalam objek ritual. Riset ini berhasil mengungkap bahwa ketepatan dalam tata cara mendem (menanam) bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah laku teologis yang memastikan perlindungan dan keselarasan energi bagi seluruh pengempon pura.

Ketajaman analisis Adhi Satria dalam meretas nilai esoteris upacara ini diuji secara ketat oleh jajaran dewan penguji pakar yang sangat kompeten di bidangnya. Hadir sebagai penguji utama, Dr. Drs. I Made Girinata, M.Ag, bersama Dr. I Dewa Ayu Hendrawathy Putri, S.Sos., M.Si, secara kritis membedah landasan sastra serta ketepatan fenomenologi ritual yang digunakan peneliti. Sesi diskusi akademik berlangsung sangat dinamis, di mana para dewan pakar menelisik kedalaman makna simbolik setiap unsur Panyejeg dan Pangenteg agar implementasinya di lapangan tetap selaras dengan pakem sastra agama.

Kualitas tesis ini semakin dipertajam melalui masukan strategis serta sesi tanya jawab intensif bersama Dr. I Made Adi Brahman, S.Ag., M.Fil.H dan Dr. I Nyoman Piartha, S.Ag., M.Fil.H. Para dewan penguji memberikan arahan penting mengenai penguatan analisis data dan validitas informasi dari para penglingsir serta serati banten agar tesis ini menjadi rujukan akademis yang kuat dan otentik. Sesi tanya jawab tersebut menjadi momentum berharga bagi mahasiswa untuk mempertahankan argumentasi ilmiahnya, sekaligus menyempurnakan naskah tesisnya sesuai standar baku karya ilmiah tingkat magister yang kredibel.

Keberhasilan dalam ujian tesis ini menjadi batu pijakan awal yang mantap bagi Pande Made Adhi Satria Wicaksana untuk menuntaskan studinya demi meraih gelar Magister Agama (M.Ag). Program Pascasarjana UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar senantiasa mendoakan dan berharap agar seluruh proses penyelesaian studi ini ke depan diberikan kelancaran serta senantiasa dalam tuntunan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Semoga karya ilmiah yang dilahirkan dari riset ini mampu memberikan sumbangsih yang agung bagi perkembangan ilmu teologi Hindu Nusantara, serta menjadi panduan moral dan ritual yang berharga bagi umat dalam menjaga kesucian serta harmoni di setiap tempat suci (Merajan/Pura) di seluruh pelosok Bali. -(tupasca)

Berita Terkait