|

Bedah Filosofi Ekologi Subak Jatiluwih, Acyuntananda Lalui Ujian Kualifikasi S3 UHN Sugriwa

Denpasar – Sistem pengairan Subak di Bali, khususnya di Jatiluwih, bukan sekadar infrastruktur agraris warisan leluhur, melainkan urat nadi pelestarian ekosistem yang bernapas spiritual. Menggali lebih dalam fondasi filosofis di balik kelestarian warisan dunia tersebut, Program Pascasarjana Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar kembali menggelar Ujian Kualifikasi Disertasi Penelitian untuk program S3 Doktor Ilmu Agama. Sidang akademik yang bertujuan menguji kebaruan gagasan ini dilangsungkan secara ketat pada Kamis (8/10/2026), bertempat di ruang ujian program S3 Doktor Ilmu Agama.

Tampil ke mimbar akademik dengan persiapan matang, mahasiswa doktoral atas nama Acyuntananda Wayan Gaduh bersiap mempresentasikan kerangka pemikirannya. Ia mengusung judul penelitian yang sangat tajam dan relevan dengan isu lingkungan masa kini, yakni “Ontologi Prakrti Sakti Dan Praktik Subak Jatiluwih Kabupaten Tabanan Bali Kajian Filsafat Ekologi Hindu”. Diberikan alokasi waktu pemaparan taktis selama 15 menit, promovendus merangkum intisari rancangan risetnya secara lugas dan komprehensif di hadapan para dewan pakar.

Melalui kacamata filsafat ekologi Hindu, riset ini berupaya membedah kedudukan Prakrti Sakti (kekuatan penciptaan alam semesta) yang teraplikasikan secara nyata dalam denyut nadi kehidupan petani Subak Jatiluwih. Acyuntananda menyoroti bagaimana ontologi kesakralan alam tersebut menjadi fondasi utama yang menjaga keseimbangan ekosistem di kawasan lumbung pangan Tabanan. Pendekatan filosofis ini diharapkan mampu menjadi jawaban atas krisis ekologi sekaligus benteng pertahanan bagi eksistensi Subak di tengah derasnya arus alih fungsi lahan.

Usai menjabarkan kerangka konseptualnya yang membumi, ketajaman analisis promovendus langsung diuji melalui sesi tanya jawab. Dinamika persidangan pun berlangsung interaktif dan sarat akan dialektika intelektual. Kelayakan gagasan riset ini dikawal dan dikuliti secara komprehensif oleh lima dewan penguji yang terdiri dari deretan pakar akademisi UHN Sugriwa. Jajaran penguji yang hadir menyidang dipimpin oleh Dr. I Made Dian Saputra, SS., M.Si., bersama Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si.

Formasi dewan penguji tersebut semakin solid dengan kehadiran para guru besar dan pakar keagamaan lainnya, yakni Prof. Dr. Drs. I Made Girinata, M.Ag., Prof. Dr. Drs. I Wayan Wastawa, MA., serta Dr. Drs. I Nyoman Ananda, M.Ag. Kelima akademisi silih berganti mencecar Acyuntananda dengan rentetan pertanyaan kritis guna memvalidasi landasan filosofis, metodologi penggalian data, hingga proyeksi tantangan Subak ke depan. Berbekal penguasaan literatur yang mendalam, promovendus sukses merespons setiap sanggahan serta menyerap masukan penguji dengan argumen yang rasional dan meyakinkan.

Lolosnya tahapan krusial ujian kualifikasi ini menjadi fondasi yang esensial bagi Acyuntananda Wayan Gaduh untuk melangkah mantap ke tahap penggalian data lapangan. Segenap pimpinan, jajaran dewan penguji, dan keluarga besar civitas akademika Pascasarjana UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar mengucapkan selamat atas pencapaian akademis yang cemerlang ini. Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa senantiasa memberikan tuntunan dan kelancaran dalam proses penyusunan disertasi, sehingga kelak karya ilmiah ini dapat menjadi sumbangsih luhur bagi pelestarian alam dan warisan budaya agraris di Bali. -(tupasca) #pascaHEBAT

Berita Terkait