PROMOSI DOKTOR PROGRAM DOKTOR ILMU AGAMA : KETUT BALI SASTRAWAN

PROMOSI DOKTOR PROGRAM DOKTOR ILMU AGAMA : KETUT BALI SASTRAWAN

Badan Perwakilan Pascasarjana (BPPS) Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Selasa, 26 Januari 2021 menyelenggarakan sidang khusus dengan agenda Ujian Terbuka Disertasi Promosi Doktor Ilmu Agama atas nama I Ketut Bali Sastrawan bertempat di Auditorium Pascasarjana. Sidang khusus ini dipimpin oleh Direktur Program Pascasarjana Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Prof. Dr. Dra. Relin D.E., M.Ag

Adapun judul disertasi yang berhasil dipertahankan dihadapan Dewan Penyanggah yakni KONSTRUKSI NILAI PEDAGOGIK PALINGGIH PANUNGGUN KARANG PADA PEKARANGAN RUMAH ADAT BALI DI KABUPATEN BULELENG

Dalam presentasinya Promovendus memaparkan bahwa Dimensi spiritual dalam arsitektur Bali diwujudkan dalam struktur bangunan rumah adat Bali. Struktur bangunan rumah tradisional di Bali lahir dari suatu tradisi, kepercayaan, dan aktivitas spritual masyarakat Bali. Keberadaaan palinggih panunggun karang pada rumah adat Bali di Kabupaten Buleleng tidak dapat dipisahkan dari kegiatan sosial dan spiritual keagamaan masyarakat Hindu di Kabupaten Buleleng yang cenderung berpikir praktis sangat berpengaruh terhadap bangunan rumah adat Bali di Kabupaten Buleleng. Secara mendasar, keberadaan palinggih panuggun karang dalam prosesnya memenuhi syarat untuk terciptanya proses pedagogik. Berdasarkan uraian latar diatas maka dalam penelitian ini dirumuskan permasalahan sebagai berikut ini :

Pertama mengapa masyarakat Hindu di Kabupaten Buleleng membuat palinggih panunggun karang pada pekarangan rumah adat Bali di Kabupaten Buleleng?

Kedua, bagaimanakah nilai pedagogik palinggih panunggun karang pada pekarangan rumah adat Bali di kabupaten Buleleng?

Ketiga, apakah implikasi nilai pedagogi palinggih panunggun karang pada pekarangan rumah adat Bali di Kabupaten Buleleng?

Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah yaitu teori arsitektur dari Hays, teori religi dari Edward B Tylor, teori intraksionalisme simbolik dari Durkheim, dan teori nilai dari Herbert Blumer. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan teologi dan fenomenologi. Lokasi penelitian yaitu di Kabupaten Buleleng. Jenis data yang dikumpulkan dan digunakan dalam penelitian ini adalah data deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini ada dua yaitu data primer dan data sekunder. Informan dalam dilakukan dengan teknik purposive. Metode pengumpulan data dalam penelitian diantaranya : observasi, wawancara, studi dokumen dan studi kepustakaan. Data yang dihasilkan dari analisis berupa tema-tema yang terkait dengan pertanyaan – pertanyaan peneliti. Data hasil wawancara dari beberapa informan yang telah dipilih sebagai informan dipadukan dengan hasil penelitian yang relevan dan sumber – sumber yang berkaitan.

Alasan masyarakat Hindu di Kabupaten Buleleng mendirikan palinggih panunggun karang pada pekarangan rumah adat Bali yaitu adanya keyakinan masyarakat terhadap kekuatan suci yang berstana pada palinggih panunggun karang, palinggih panunggun karang dapat memberikan perlindungan pada pemilik rumah, palinggih panunggun karang merupakan bagian dari sikap religius masyarakat, adanya petunjuk dalam pembangunan palinggih panunggun karang, palinggih panunggun karang dapat menciptakan perasaan kasih sayang pemilik rumah, palinggih panunggun karang dapat membangun kerukunan dalam keluarga dan palinggih panunggun karang dapat melancarkan rejeki pemilik rumah. Nilai pedagogik palinggih panunggun karang pada rumah adat Bali di Kabupaten Buleleng diantaranya nilai Ketuhanan, nilai kejujuran, nilai kasih sayang, nilai disiplin, nilai tanggung jawab, nilai pengetahuan, nilai kemandirian, nilai percaya diri, nilai keterampilan, nilai daya juang, nilai toleransi, dan gotong royong.

Implikasi nilai pedagogi palinggih panunggun karang pada pekarangan rumah adat Bali di Kabupaten Buleleng diantaranya :

  1. Penguatan sikap religiusitas keluarga
  2. Peningkatan Etika (Susila)
  3. Penguatan Harmonisasi
  4. Pembentukan Karakter dan Kepribadian
  5. Penguatan Solidaritas Sosial
  6. Penguatan Ranah Kognitif
  7. Penguatan Ranah Afektif
  8. Penguatan Ranah Psikomotor