Studium Generale Pascasarjana Prodi S3 Ilmu Agama UHN IGB Sugriwa "Membangun Moderasi Intern Umat Beragama"

Studium Generale Pascasarjana Prodi S3 Ilmu Agama UHN IGB Sugriwa "Membangun Moderasi Intern Umat Beragama"

STUDIUM GENERALE PASCASARJANA PRODI S3 ILMU AGAMA UHN IGB SUGRIWA “MEMBANGUN MODERASI INTERN UMAT BERGAMA”

DENPASAR, PPSUHNSUGRIWA – Prodi S3 Ilmu Agama Pascasarjana Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar menyelenggarakan Studium Generale pada Rabu (06/10/2021). Stadium Generale dengan tema ” Membangun Moderasi Intern Umat Beragama” ini, mendatangkan dua narasumber yakni, Lukman Hakim Saifuddin dan Mayjen (Purn.) Wisnu Bawa Tenaya, S.Ip. Kegiatan ilmiah yang berlangsung secara luring dan daring ini dibuka secara langsung oleh Rektor UHN IGB Sugriwa Denpasar Prof. Dr. Drs I Gusti Ngurah Sudiana M.Si. dengan didampingi Direktur Pascasarjana UHN IGB Sugriwa Denpasar, Prof. Dr. Dra. Relin Denayu E. M.Ag dan Dr. Drs. I Wayan Wastawa, MA selaku Ketua Panitia Pelaksana.

Ketua Panitia Dr. Drs I Wayan Wastawa, M.A melaporkan bahwa kegiatan ini sangat penting dilaksanakan mengingat kejadian di lapangan bahwa permasalahan intoleransi tidak saja terjadi antar agama tetapi juga di internal sendiri. Kemampuan bertoleransi antar umat beragama sangat ditentukan oleh keharmonisan di internal agama itu sendiri.

Tema ini diambil dengan landasan bahwa setiap agama mengajarkan tentang pentingnya hormat menghormati antar sesama manusia. Ini menyangkut bagaimana Agama memberikan penekanan pada aspek humanitas. Perkembangan kesadaran manusia menjadi inti bagaimana Agama itu secara signifikan dipraktikkan Namun, dalam perkembangannya agama-agama yang berkembang tidak saja mampu membawa perkembangan manusia meningkat, tetapi juga menimbulkan kesenjangan di antara sesamanya. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai menjauh dari tujuan yang hendak dituju. Atas nama agama mereka mulai menyampingkan nilai-nilai kemanusiaan dan melahirkan tragedi kemanusiaan

Berbagai peperangan di masa silam terjadi oleh karena konflik yang didasari oleh agama. Sampai saat ini, disamping perang terbuka, konflik ideologi berbasis agama masih banyak terjadi. Kasus kekerasan oleh karena terorisme, radikalisme, fundamentalisme dan yang sejenisnya masih terjadi hampir di seluruh belahan dunia. Di Indonesia sendiri, permasalahan ini masih sangat massif terjadi dan bahkan disinyalir dapat merongrong keutuhan Persatuan dan Kesatuan Bangsa. Ideologi kaum fundamentalis dan radikalis yang berlandaskan pada agama tertentu di Indonesia telah dengan jelas ingin menggantikan ideologi Pancasila yang didirikan oleh para Founding Father terdahulu. Ini sangat mengkhawatirkan bagi seluruh bangsa Indonesia.

Guna mengatasi ini, pemerintah berupaya dengan melakukan berbagai macam strategi, baik yang bersifat preventif maupun menangkal serangan-serangan yang sudah terjadi. Berbagai pihak diajak untuk bertanggungjawab untuk mengatasi hal ini. Disamping itu, yang sangat menyedihkan terjadi adalah intoleran sering terjadi di tubuh agama itu sendiri. Diantara penganut agama yang sama sendiri sering terjadi praktik-praktik intoleran. Disini tentu menjadi kesulitan sendiri di dalam membentuk moderasi antar beragama jika di wilayah intern sendiri masih terjadi praktik intoleran. Untuk mengatasi ini, Lukman Hakim Saifuddin yang dimoderatori oleh Dr. Drs. I Nyoman Ananda, M.Ag dengan tegas menyatakan bahwa membangun narasi tentang permasalahan ini termasuk penyelesaiannya sangat penting dilakukan. Membangun moderasi beragama di internal sendiri bisa dibangun melalui berbagai dialog dari berbagai komponen dengan mengedepankan nilai-nilai agamanya sendiri tentang cinta kasih dan saling menghormati.

Sementara itu Mayjen (Purn.) Wisnu Bawa Tenaya, S.Ip dengan penuh semangat memaparkan tentang pentingnya mengamalkan nilai-nilai luhur yang dimiliki oleh Hindu sendiri yang demikian kaya dan bisa diadopsi serta diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi intoleransi yang berkembang dimasyarakat harus segera diatasi, sehingga praktik bullying, menyerang pribadi orang di sosial media, mencaci-maki, dan yang sejenisnya tidak terjadi. Praktik ini sering menimbulkan ketegangan di ranah antar agama dan yang lebih sering justru di ranah intern agama. Hal ini sangat mengkhawatirkan karena tidak sesuai dengan ajaran agama yang mengedepankan nilai-nilai kebenaran, kasih sayang dan kemanusiaan.

PPS-UHNSugriwa